Praktek syariah mesti diterapkan di berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, baik itu dalam bidang ubudiyah, muamalah, dan lain sebagainya. Implementasi syariah tersebut bertujuan agar sirkulasi kehidupan manusia berjalan sesuai dengan kodratnya sebagai hamba yang diciptakan oleh-Nya semata-mata hanya untuk beribadah kepada Dzat Yang Maha Suci.

            Salah satu aktivitas kehidupan manusia yang mesti benar-benar syariah adalah praktek ekonomi, baik dalam perdagangan, jasa, atau lembaga keuangan yang akhir-akhir ini marak bermunculan dengan nama lembaga keuangan syariah. Dan dari sekian banyak lembaga keuangan yang berprinsip syariah tersebut adalah Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT NU Jawa Timur.

            Dalam kegiatan rihlah yang diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo beberapa hari yang lalu, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy selaku pengasuh ­­Ma'had tersebut, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa lembaga keuangan syariah harus benar-benar mempraktekkan sistem perekonomian yang berprinsip syariah, “Kepercayaan masyarakat luas kepada BMT NU harus diimbangi dengan pelayanan yang maksimal, dan pure syariah, karena BMT NU merupakan lembaga keuangan syariah. Saat ini banyak lembaga keuangan syariah, namun dalam prakteknya keluar dari garis-garis syariah. Saya meyakini, ketika kita benar-benar mempraktekkan ekonomi yang syariah, insya Allah akan lebih barokah”. Dawuhnya.

            Lebih lanjut beliau menjelaskan, kata “syariah” pada lembaga keuangan seperti Bank, Koperasi, BMT, atau lainnya, bukan hanya sekedar pemanis nama lembaga keuangan tersebut, dan atau bukan hanya sekedar bungkus saja. Namun dibalik itu tersirat sebuah makna bagaimana lembaga keuangan tersebut bisa mengaplikasikan prinsip-prinsip syariah dalam operandinya. “Sekarang ini, ketika berdialog dengan masyarakat awam menggunakan stigma agama memang sangat mengena, dan mudah diterima, karena sudah ada doktrin. Namun kalau menjadikan doktrin agama hanya sebagai bungkus, maka itu tidak baik, dan hal itu perlu dihindari”. Lanjutnya.

            Selain menekankan pentingnya pelaksanaan ekonomi syariah, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy juga mengapresiasi adanya kegiatan Rihlah. Menurut beliau, kegiatan Rihlah seperti ini sangat penting dalam penguatan psikis pengelola/karyawan, karena pada dasarnya manusia memang membutuhkan recovery fisik maupun psikis. “Di akhir zaman ini langka ada lembaga keuangan yang memperhatikan karyawan atau pengelolanya dalam segi psikis, kebanyakan hanya dalam segi materi saja. Kegiatan Rihlah Sanad Perjuangan seperti ini, merupakan salah satu bentuk kepedulian BMT NU kepada pengelolanya dimana tidak hanya memperhatikan kesejahteraan materi, namun juga memperhatikan kesejahteraan psikis atau spiritualnya”. Tambahnya.

            Di akhir tausiyahnya, cucu Pahlawan Nasional KHR. As’ad Syamsul Arifin ini berharap kegiatan Rihlah tidak hanya dilakukan sekali ini saja, akan tetapi di tahun-tahun berikutnya secara kontinyu tetap dilaksanakan. “Saya berharap kegiatan Rihlah ini diadakan setiap tahun, semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Dan saya pribadi merasa senang Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dijadikan sebagai salah satu tempat kegiatan Rihlah, dengan seperti ini para alumni yang saat ini mengabdi kepada masyarakat melalui BMT NU JATIM tetap dapat menyambung tali silaturrahim dengan Pengasuh dan para alharhumin, selain pada acara Haul Majemuk”. Tutupnya. (idn)